Valentine's Day Pumping Heart

Minggu, 25 Oktober 2015

Allah SWT Menciptakan Syurga ‘Adn Untuk Kita dan Anak-Anak Kita

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(Q.S : At-Tahrim: 6)

Ayat diatas mengingatkan kita semua untuk menjaga diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka, dalam kata keluarga tentu termasuk juga suami, istri, dan anak-anak kita. Menjadi satu kewajiban bagi istri dan suami untuk saling mengingatkan serta bekerjasama dalam mendidik anaknya menjadi anak yang shaleh. Anak yang taat akan perintah Allah SWT, anak yang meninggalkan larangan Allah SWT dan takut bermaksiat kepada Allah SWT.

Menjaga diri kita sendiri adalah kata yang diletakkan lebih awal dalam ayat ini, tentu tujuannya adalah agar kita sebagai orang tua bisa menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak kita. Kita mengajar dan mendidik anak-anak kita tentang agama melalui contoh dan teladan tidak hanya melalui kata-kata. Ketika kita mengajarkan anak-anak kita untuk melakukan shalat tepat waktu dan berjamaah maka tentu orang tuanya juga shalat tepat waktu, ketika orang tua mengajarkan anaknya memiliki akhlak yang baik, tutur kata yang indah tentu orang tuanya telah terlebih dahulu melakukan hal ini.

Di ayat ini kita juga belajar betapa pentingnya pendidikan berbasis keteladanan, karena jika kita memberikan pendidikan berbasis keteladanan kepada anak-anak kita maka hal ini akan membentuk karakter serta membangun kepribadiannya. Akan tetapi jika kita hanya mendidik anak-anak kita dengan kata-kata maka yang terjadi adalah anak kita melakukannya karena takut kepada kita sebagai orang tuanya, sehingga ketika tidak ada orang tuanya maka dia tidak akan melakukannya.

Kalau ayat diatas memberikan peringatan kepada kita untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka maka dalam ayat lain Allah memberikan sebuah janji yang sangat indah serta istimewa untuk kita dan keluarga kita yaitu janji syurga ‘Adn.

“Syurga ‘Adn. Mereka masuk kedalamnya bersama mereka yang shalih di antara orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka, sedang malaikat-malaikat masuk ketempat-tempat mereka dari semua pintu” (Q.s. Ar-Ra’d : 23 )

Betapa indahnya janji Allah untuk kita ?, untuk orang-orang yang shaleh. Sebuah motivasi yang Allah berikan kepada kita semua untuk menjadi keluarga yang shaleha, yaitu masuk satu keluarga kedalam satu syurga khusus, tidak hanya itu kitapun akan dilayani oleh para malaikat yang masuk ke tempat kita dari semua pintu. Ma syaa Allah sungguh suatu hal yang sangat indah Allah janjikan pada kita, semoga kita semua dan keluarga kita Allah perkenankan masuk ke syurga ‘Adn. Aamiin Ya Allah, Aamiin Ya Rabb..

Sumber: http://www.elmina-id.com/allah-swt-menciptakan-syurga-adn-untuk-kita-dan-anak-anak-kita/

Ketika Orang Tua Tidak Merestui Pernikahanmu…

Sebuah impian setiap muslim atau muslimah tentu adalah menyempurnakan separuh agama melalui pernikahan. Membangun Istana cinta yang megah berharap istana itu akan selalu utuh hingga ke syurga kelak.

Restu orang tua, adalah hal penting yang mesti dimiliki oleh setiap anak sebelum menikah. Namun terkadang tak sedikit yang memiliki kendala disini. Di saat ada laki-laki yang datang kerumah untuk meminang tapi disaat itulah orang tua tidak merestui lamaran tersebut. Apakah karena belum cukup umur, pekerjaan dan penghasilan yang tidak sesuai dengan harapan orang tua, kriteria keturunan yang tidak sesuai standar keinginan orang tua, atau mungkin karena alasan agama, akhlak serta sikap calon menantu yang tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan orang tua.

Dalam beberapa daerah ada istilah “Bibit, Bobot, Bebet”, “Bibit” melihat calon menantu berdasarkan asal usul keluarga dan keturunannya, “Bobot” mempertimbangkan calon menantu dari kepribadian calon yang dipilih mulai dari sikap, watak, akhlak, pekerjaan, penghasilan, ilmu, serta berbagai kapasitas pribadi lainnya, sementara “Bebet” adalah teman atau pergaulan dengan siapa si calon bergaul dan berteman.

Setiap orang tua tentu hanya punya satu keinginan untuk anaknya yaitu mendapatkan yang terbaik, orang tua ingin anaknya bahagia, orang tua ingin orang yang kelak akan menjadi suami anaknya bisa menjaga dan melindungi anaknya layaknya dirinya melindungi anaknya. Nah, terkadang cara orang tua ingin mendapatkan menantu yang terbaik untuk anaknya sering terjadi perbedaan “persepsi” dengan anak. Ada orang tua yang memiliki persepsi agar anaknya bahagia harus menikah dengan orang yang kaya raya sehingga orang tua dengan tipe seperti ini akan menjadikan jenis pekerjaan dan penghasilan , ada orang tua yang memiliki persepsi agar anaknya bahagia harus menikah dengan orang keturunan bangsawan, keturunan terhormat, namun tentu ada juga yang menjadikan ketaatan serta ketakwaan sebagai dasar kebahagiaan anaknya sehingga para orang tua yang memiliki persepsi seperti ini tentu akan menjadikan ketaatan dan ketakwaan sebagai parameter utama dalam memilih jodoh bagi anaknya.

***

Perbedaan persepsi antara orang tua dan anak inilah yang terkadang sering menjadikan hal pernikahan tidak direstui oleh orang tua atau dalam kasus lain terjadi pemaksaan untuk menikah dengan orang yang menjadi pilihan orang tua, yang menjadi penyebab utama hal ini terjadi adalah tidak adanya atau kurang komunikasi antara orang tua dengan anak.

Maka solusi utama untuk menyesuaikan agar pendapat anak dengan orang tua selaras adalah dengan membangun komunikasi antara anak dengan orang tua. Jika memang dari orang tua sendiri tidak memulai komunikasi dengan anaknya mengenai jodoh, maka kita sebagai anaklah yang memulai komunikasi dengan orang tua tentang urusan jodoh, dan tentu komunikasinya dibangun jauh-jauh hari tidak dadakan ketika akan menikah.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah menanyakan kepada orang tua calon menantu seperti apa yang mereka inginkan, calon menantu seperti apa yang menjadi harapan mereka. Jika persepsi orang tua kita masih menjadikan hal-hal yang bersifat materi sebagai acuan utamanya dalam menentukan jodoh maka tugas kitalah mengkomunikasikan hal ini kepada orang tua sebaik-baik mungkin tanpa menyakiti hati mereka.

Terkadang komunikasi untuk menyamakan persepsi dengan orang tua ini tidak cukup hanya satu kali pembicaraan, butuh kesabaran dan konsistensi untuk selalu menyampaikannya pada orang tua. Jadikan ini sebagai bentuk birrul walidain kita kepada orang tua, seperti yang kami sampaikan di awal apapun yang disampaikan orang tua maka niat mereka hanya satu, yaitu ingin yang terbaik untuk kehidupan kita kelak. Sementara persepsi tentang kebaikan yang diinginkan orang tua kitalah yang terkadang berbeda-beda. Sangat bergantung pada latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang masa lalu dan juga latar belakang sosial keluarga kita.

Semoga dengan mengerti tentang hal ini kita bisa menerima dengan lapang dada apapun keputusan orang tua tentang jodoh kita. Jodoh sudah diatur oleh Allah SWT, jodoh itu pasti namun cara menjemputnya yang tidak pasti dan terkadang penuh dengan ujian, yang bisa jadi salah satunya adalah ujian dari orang tua sendiri. Jangan sampai ego kita ingin menikah dengan seseorang menjadikan kita durhaka dan tidak taat kepada orang tua, tetap utamakan ketaatan kepada orang tua, tetap utamakan ridho orang tua, In syaa Allah, Allah akan karuniakan jodoh terbaik dunia akhirat untuk kita.

Sumber : lukihermanto.com

Senin, 19 Oktober 2015

Alih Bentuk Kekayaan: Dari Materi Ke Kualitas diri

Teringat sebuah do’a yang dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, Sahabat Rasulullah yang paling utama. Do’a itu berbunyi: “Ya Allah jadikan dunia di tanganku, dan jadikan akhirat di hatiku.”

Penggal pertama do’a ini ternyata mengajari kita banyak hal. Tangan bermakna pengelolaan. Abu Bakar tidak ingin dunia masuk ke dalam hatinya. Ia ingin dunia ada dalam genggamannya, dalam kuasanya, dan dalam pengelolaannya. Ia tahu, kekayaan yang ditimbun, sebanyak apapun tak pernah memuliakan pemiliknya. Seseorang, hanya akan mulia dengan kualitas dirinya, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia lainnya.

Gue Never Die

Senyum Semangat *_*

Percakapan Ifan dan Syahdu dalam Film ”Kehormatan dibalik Kerudung”

Salsabila

"Mengapa kita tidak berusaha untuk mengenal, untuk berusaha bertemu...???"

"Karna pertemuan pertama akan menyisahkan rasa penasaran, dan pertemuan kedua akan menyisahkan rasa rindu, dan saya tidak mau merindu...!!!"

Senyum Semangat *_*

Hati dan Ilmu

Hati itu ibarat tanah, ilmu ibarat tanamannya, dan mengulang-ulang ilmu adalah airnya. Bila tanah tak mendapatkan air maka tanamannya akan kering.

-Abi 'abdillah ja'far bin muhammad.-

Hidupmu lebih Indah

Terkadang, saat seorang membicarakan keburukanmu atau bahkan memburuk2kan dirimu pada yang lain, indikasi bahwa hidupmu lebih indah darinya.

*Tere Liye

Amanah dan Pengorbanan

"Bukan amanah yang harus dikurangi, tapi pengorbanan yang harus dilebihkan"

**Ustadz 'Abdul 'Azis