Minggu, 01 November 2015
Bukan kompetisi
Aku tidak pernah melihat menikah sebagai sebuah kompetisi. kau tau artinya?
pertama, aku tidak akan menikah karena orang-orang menikah, karena teman-temanku menikah, karena junior-juniorku di sekolah atau di kampus menikah, karena adikku juga ingin menikah.
aku akan menikah karena aku tau, pada suatu titik aku tak akan mampu sendiri menjaga diri. dan karena Allah mengetahui itu, sehingga kemudian Allah mempertemukanku dengan jodohku.
kedua, aku tidak bersaing dengan siapapun tentang apapun. siapa yang menikah lebih dulu. siapa yang calon pasangannya lebih "wah". siapa yang pernikahannya lebih mewah. siapa yang kemudian punya anak lebih dulu. siapa yang rezekinya paling banyak. apalagi siapa yang tampak paling bahagia di media sosial. tidak ada.
satu-satunya sainganku hanya diriku sendiri. aku hari ini harus lebih baik dari aku kemarin. aku besok harus lebih baik dari aku hari ini. lebih bersyukur, lebih bahagia di dalam hati.
ketiga-dan yang paling utama, aku tidak bersaing dengan siapapun-tentang mendapatkan jodoh. setiap manusia diciptakan berpasangan. dengan atau tidak bersaing, setiap orang akan menemukan jodohnya masing-masing. jadi, kalau ada seseorang yang membanding-bandingkan aku dengan orang lain, yang artinya membuat diriku bersaing dengan orang lain, aku mundur. kalau ada seseorang yang tampak sekali ingin memiliki orang yang aku berdoa bisa menikah dengannya-dan menganggapku saingannya, aku juga mundur.
aku tidak berkompetisi tentang menikah.
aku hanya punya satu ukuran kebahagiaan-yaitu bersyukur sebanyak-banyaknya. aku hanya punya satu ukuran perjuangan-yaitu berdoa sekuat-kuatnya, segenap daya mewujudkannya.
Bersamadenganmu
Bekali Anak-anak kita dengan Al-Qur'an
Tak perlu menjadikan Al-Qur'an sebagai sarana untuk mendekati, memiliki, atau berharap pada seseorang. Karena jika kamu memang yakin, kelak dia akan mengantarkanmu pada seseorang yang juga mencintai Al-Qur'an dan mencintaimu. Jadikanlah Al-Qur'an sebagai sarana pembelajaran kita menjadi Imam terbaik dan perempuan terbaik.
Jika kamu adalah seorang calon imam, tanyakan pada dirimu, Kiranya dengan apa kelak kamu memimpin keluargamu? dengan apa kamu mengantarkan orang-orang di sisimu menuju jannah jika tidak dengan Al-Qur'an.
Jika kamu adalah seorang calon madrasah terbaik putra-putri rabbani, tanyakan pada dirimu, Kiranya dengan apa kelak kamu menyayangi dan mencintai mereka yang ada di sisimu? Kiranya dengan apa kamu membimbing putra-putrimu jika tidak dengan Al-Qur'an?
Libatkan Allah dalam setiap keputusan
Untuk membuat keputusan, kita perlu mengalahkan ego kita sendiri. Sebab kita menyadari bahwa keputusan kita tidak lagi hanya terkait tentang diri kita sendiri. Tapi juga keluarga, lingkungan, bahkan anak cucu kita nanti.
Semoga Allah masih menjadi yang pertama :)
Libatkan Allah dalam setiap keputusan :')
Ingat Mati karena kematian tidak akan melupakanmu
"Kullu nafsin dzaa iqatul maut"
Bahagia itu ketika diingatkan dengan kematian, karena dialah sahabat terdekat kita. Semoga Allah berikan kita umur yg panjang. #reminder
Cek Hati Kita
Ada yang update status sedang di Majelis, dikatakan riya.
Ada yg upload foto kaki, dikatakan riya, pamer sepatu.
Ada yg upload foto tangan pegang Al-Qur'an atau buku, di katakan riya.
Ada yg memberi sedekah di depan umum, dikatakan riya.
Ada yg baca Al-Qur'an di tempat umum, dikatakan riya.
Jika mengurusi perkara hati diri sendiri saja cukup menyita waktu, lantas bagaimana seseorang masih sempat menyibukkan dirinya dengan perkara hati orang lain?
Jangan menghakimi kesendirian
Jangan menghakimi kesendirian, jangan meremehkan kesunyian. Kita enggak pernah tau, apakah keduanya lahir dari sebab-akibat atau emang sebuah pilihan.
Kalau saja manusia bisa turut merasakan apa yang orang lain rasakan. Niscaya prasangka itu akan hilang. Prasangka berubah menjadi sebuah sikap saling memahami bahwa setiap manusia bergerak dalam hidupnya dan berjuang dengan tantangannya masing-masing.
Aku memahami bahwa memang kita tidak perlu membuat semua orang mengerti, cukup membuat diriku percaya bahwa apa yang aku jalani adalah sebuah jalan yang benar, jalan yang sunyi karena begitu sedikit orang yang melaluinya.
Dari yang sedikit itu, aku tidak tahu ada kamu atau tidak. Semoga iya.
Semoga kita berjalan di jalan yang sama. Semoga iya.
Di Balik Rindu
الصلاة والسلام عليك يا رسول الله
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحيمِ
Kalau rindu hanya terdengar dari ucapan kata, maka orang tua kita tidak demikian. Rindu bisa berubah menjadi doa dan aneka bentuk tindakan yang tidak bisa kita temukan padanannya pada orang lain. Kalau rindu hanya berwujud huruf menjadi kata, maka seseorang itu tidak membuatnya menjadi demikian. Rindu bisa berubah menjadi kesibukan mempersiapkan pertemuan. Di balik kerinduan setiap orang, rindu telah mengubah pikiran menjadi kadang sempit kadang luas, mengubah kata menjadi sendu, dan menjadi doa lebih kuat dari biasanya. copyright © Najwa Salsabila RA
Langganan:
Postingan (Atom)






