Valentine's Day Pumping Heart

Minggu, 25 Oktober 2015

Inilah 3 hal kecil yang membuat suami makin mencintaimu…

“Ketahuilah, sesungguhnya bagi kamu terhadap istri-istri kamu ada kewajiban dan bagi istri-istri kamu terhadap kamu ada pula kewajiban (HR Ashhabus Sunnah dishahihkan oleh At-Tirmidzi)

Mawaddah atau cinta yang selalu bergelora adalah hal yang menjadi impian setiap pasangan, cinta yang selalu tumbuh dari masa ke masa, dari waktu ke waktu. Semakin bertambahnya usia pernikahan semakin bertambah juga rasa cinta adalah harapan setiap pasangan, suami ingin makin dicintai oleh istrinya begitu juga sebaliknya istri ingin lebih dicintai oleh suami.

Mawaddah atau cinta yang selalu menggelora tidak mudah memang untuk diraih karena yang sering terjadi pada kenyataannya adalah sebaliknya. Semakin bertambah usia pernikahan, maka semakin meningkat juga kejenuhan terhadap pasangan, rasa bosan terhadap pasangan yang mana hal-hal ini tidak jarang yang berujung pada pertengkaran, saling menyalahkan dan saling merasa benar sehingga pada tingkatan tertentu akan menyebabkan perceraian, suatu hal yang halal namun sangat tidak di sukai oleh Allah SWT.

Mawaddah atau cinta yang selalu menggelora bisa ditumbuhkan, bisa dihadirkan sehingga hal ini akan selalu mewarnai setiap pernikahan menjadi rumah tangga bahagia dunia akhirat. Pada tulisan kali ini kita akan belajar bersama tentang 3 hal yang bila di lakukan in syaa Allah akan membuat pasangan kita makin mencintai kita, yang mana tulisan kali ini konteksnya adalah untuk para istri agar makin dicinta oleh suaminya. Bagaimana, anda mau makin dicintai oleh suami ?, jika belum menikah ini adalah ilmu berharga yang mesti anda pelajari dan pahami.

1. Menerima dengan penuh ketulusan dan keikhlasan

Ketika sudah terucap kata “sah” oleh para saksi dalam prosesi akad nikah, maka laki-laki yang awalnya bukan siapa-siapa itu telah menjadi suamimu, ia telah resmi menjadi imammu. Semenjak itu pulalah berlaku kewajibanmu terhadap suami untuk selalu taat dan patuh. Semenjak saat itu jugalah anda mesti menerimanya baik kelebihan yang dimilikinya maupun kekurangan yang dimilikinya. Bersyukur atas kelebihan yang dimilikinya dan menerima dengan sabar atas ketidaksempurnaannya, karena sejatinya pernikahan adalah saling menyempurnakan, karena hakikatnya pernikahan adalah saling bersabar dan mengingatkan atas segala ketidakmampuan.

Sikap menerima dengan tulus ikhlas adalah pondasi terbaik untuk tumbuhnya cinta, karena kebanyakan perselisihan dirumah tangga terjadi karena tidak adanya sikap saling menerima. Sikap saling menuntut, saling merasa benar dan menyalahkan adalah penyebab utama kerapuhan sebuah rumah tangga.

2. Memperhatikan hal-hal kecil

Pernah mendengar hukum Law of few (Hukum tentang yang sedikit) ?. Istilah ini dipopulerkan oleh Malcolm gladwell dalam bukunya Tipping point . Dalam buku ini ia menjelaskan bagaimana hal-hal kecil yang berhasil membuat perubahan besar. Hal ini berlaku dalam banyak konteks mulai dari bagaimana virus penyakit menyebar, bagaimana suatu karya berhasil dan sukses di masyarakat tentu juga bisa diimplementasikan dalam konteks percintaan rumah tangga. Karena bisa jadi cinta dalam rumah tangga itu tumbuh, bersemi dan mekar kembali layaknya bunga-bunga ditaman karena hal-hal kecil dan sederhana.

Menyambut suami yang pulang beraktivitas dengan pakaian terbaik, senyum terbaik, penampilan terbaik adalah salah satu contohnya. Menyiapkan minumnya, mendengarkan keluh kesahnya, memberikan pujian tulus dan ikhlas, ucapan terimakasih, atau mungkin hanya sekedar “emot” bertanda “love” di aplikasi pesan smartphone anda akan sangat berpengaruh dalam menumbuhkan cinta. So, mulai saat ini perhatikanlah hal-hal kecil yang mungkin karena hal kecil tersebut cintamu makin bersemi.

3. Mengakui dan menghargai pasangan

Kalau wanita ingin diperhatikan dan didengarkan maka laki-laki ingin dihargai, diakui dan dianggap keberadaannya. Banyak kesalahan komunikasi yang terjadi antara laki-laki dan wanita adalah ketika wanita memperlakukan laki-laki sebagaimana ia (wanita) ingin diperlakukan. Contoh sederhana ketika laki-laki (suami) menghadapi masalah, wanita hadir dengan niat baik dan ingin menunjukkan perhatiannya, ia menanyakan banyak hal, menawarkan bantuan dan solusi sambil terus bicara tanpa henti. Apakah hal ini akan menjadi solusi ? ternyata tidak, karena laki-laki tidak menyukai hal ini. Hal baik dan tanda perhatian menurut wanita belum tentu adalah hal baik menurut laki-laki. Laki ketika ada masalah cenderung diam, menyelesaikannya sendiri dan memberi tahu pasangannya ketika permasalahan tersebut telah selesai.

Untuk membangun rumah tangga yang bahagia tentu dibutuhkan bekal, salah satunya adalah 3 hal diatas, in syaa Allah akan sangat bermanfaat dan akan memberikan dampak yang bagus untuk rumah tanggamu bagi yang sudah menikah. Dan bagi anda yang masih sendiri tentu hal ini akan menjadi bekal berharga dalam menjalani rumah tanggamu kelak.

Sumber : http://www.elmina-id.com/inilah-3-hal-kecil-yang-membuat-suami-makin-mencintaimu/

Beginilah semestinya dalam menerima atau menolak pinangan…

Salah satu tugas dari Ayah adalah mencarikan jodoh terbaik dan menikahkan dengan anaknya, ketika datang pinangan dari laki-laki biasanya sang ayah memperhatikan agama calon menantunya, melihat nasab keluarganya, melakukan penjajakan atas sikap dan karakter si calon tersebut dan meminta izin dan pendapat anaknya dari calon yang datang idealnya begitu. Namun hari ini kondisinya terbalik, si anak perempuan yang mencari calonnya, mengenali calonnya, mengenalkan dan minta pertimbangan pada orang tua, bahkan tak sedikit juga yang memaksakan pilihannya sendiri kepada orang tuanya dengan dalih sudah cinta.

Lalu, semestinya apa saja yang harus menjadi pertimbangan dalam menerima atau menolak lamaran (pinangan) ?

1. Agamanya

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Rasulullah bersabda:

“Jika datang kepada kalian (Wahai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia dengan putrimu. Sebab jika kamu tidak melakukannya akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran dimuka bumi.”

Kemudian ada yang bertanya :

“Wahai Rasulullah, bagaimana jika pemuda itu cacat atau kekurangan?”

Maka Rasulullah menjawab hingga mengulanginya sampai 3 kali :

“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!”

Jelas disini bagaimana Rasulullah mengutamakan agama dibanding hal lainnya seperti harta, keturunan dan ketampanan. Bagi para muslimah bisa mengkomunikasikan hal ini kepada orang tuanya agar lebih memilih pertimbangan agama diatas pertimbangan yang lainnya. Ini dilakukan jika orang tua masih memiliki persepsi bibit, bobot dan bebet dalam memilih pasangannya.

2. Mempertimbangkan kecocokan bagi si anak itu sendiri.

Nah kalau lamaran itu datang kepada orang tua maka orang tuanya yang minta izin pada anak, namun jika lamaran itu datang kepada sang anak lansung misalnya dalam bentuk proses taaruf, maka disinilah si anak yang mempertimbangkannya. Bagi si anak sendiri semestinya tetap menjadikan agama sebagai patokan utama akan tetapi juga boleh melihat pertimbangan-pertimbangan lain seperti ekonomi, ekonomi disini maksudnya bukan melihat seberapa banyak hartanya namun seberapa besar dia bisa bertanggung jawab dalam menyiapkan nafkah untuk istri dan anaknya kelak.

Memilih menolak dengan berbagai alasan seperti tidak cocok dan lain sebagainya boleh-boleh saja namun yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu “pilih-pilih” apalagi seperti tidak ada kesamaan, beda persepsi, beda warna kesukaan, beda makanan kesukaan dan hal-hal lain yang sebenarnya tidak prinsip.

Sementara dalam mengenali bagaimana jodoh terbaik dan laki-laki terbaik yang mesti diterima sebagai calon suami. Ada baiknya sahabat semua juga membaca tulisan “5 Ciri laki-laki shaleh yang jangan ditolak jika melamarmu”

Sumber : http://www.elmina-id.com/beginilah-semestinya-dalam-menerima-atau-menolak-pinangan/

Allah “membocorkan” rahasia tentang jodohmu dalam Al-quran…

Jika suatu ketika seseorang atau mungkin kamu ditanya tentang jodohmu maka akan muncul beragam jawaban. Jika belum punya tambatan hati sama sekali biasanya jawabannya ingin jodoh yang serba sempurna contoh : maunya jodoh yang shaleh, tampan, mapan, hafalan Al-quran sekian juz, ibadah hariannya bagus, dari keturunan yang baik-baik yang pada intinya ketika masih kosong hati dan pikiran dari keterikatan hati dengan seseorang pada umumnya akan membuat pilihan target jodoh impian yang serba sempurna.

Tapi jika sudah punya tambatan hati atau mungkin pacar, maka jawabannya beda lagi. Jika ditanya tentang jodohnya jawaban akan mengarah pada ciri-ciri pasangannya (pacarnya). Tak peduli lagi tentang kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh “pacarnya” yang jelas maunya sama si dia.

Jawabannya akan berbeda lagi jika kita tanyakan kepada orang yang pernah gagal dalam pacaran, gagal menuju pernikahan mungkin pacarnya menikah duluan dengan orang lain atau putus. Biasanya kalau yang ini jawabannya agak rada pesimis, “semua laki-laki itu sama saja”, “saya tidak percaya lagi dengan laki-laki”, “saya sakit hati dengan laki-laki”, “untuk saat ini tidak mikirin jodoh dulu”, “Trauma nanti takut gagal lagi”.

Tapi jika usia sudah mulai lanjut, teman-teman sudah punya momongan, keluarga dan saudara sudah mulai bertanya “kapan menikah”, maka jawabannya tentang jodoh menjadi lebih simple. “Yang penting islam, shaleh, taat dan mampu membiayai keluarga”.

Ya, kurang lebih begitulah jawaban umum jika ditanya tentang jodoh ke beberapa orang, masing-masing orang tentu punya persepsi dan defenisi sendiri tentang jodohnya. Ada yang optimis dengan jodohnya, ada yang subjektiv dalam memberikan penilaian , ada yang pesimis dan ada juga yang sangat sederhana dan simple. Semua tentu bergantung pada pengalaman masa lalu, kondisi saat ini dan tentang bagaimana pengetahuannya terhadap jodoh.

Banyak orang yang galau tentang jodohnya, tak sedikit yang khawatir salah pilih atau malah tidak ada yang memilih sehingga memilih jalan maksiat pacaran sebagai ikhtiar untuk mendapatkan jodohnya. Yang pacaranpun jangankan mendapat solusi yang ada malah menambah masalah sehingga memandang pesimis perkara perjodohan. Di lain pihak ada juga yang semakin hari semakin gelisah karena Allah belum pertemukan ia dengan jodohnya sementara usia makin hari makin bertambah.

Kenapa banyak yang gelisah dan galau ketika berbicara jodoh ?, karena kebanyakan diantara kita memaksakan definisi dan persepsi pribadi kita tentang jodoh, mengikuti “ego” yang bahkan sudah bercampur dengan nafsu syahwat dalam menentukan jodoh kita. Jodoh memang misteri, tidak ada yang tau tentang siapa jodoh kita, namun kabar baiknya Allah sudah kasih sedikit bocoran tentang jodoh kita yang mana jika hal ini kita jadikan sebagai acuan tentu akan menjadi solusi utama kegalauan dan kegelisahan kita.

Allah membocorkan Rahasia tentang jodoh didalam surat An-nur Ayat 26 :

“ Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An-Nur:26)

Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah “clue” kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca Al-quran, baik akhlak dan prilakunya In syaa Allah, Allah akan pertemukan juga dengan orang yang seperti itu.

Setelah mengetahui ini, tentu kita sama-sama memahami, meyakini dan tentu juga mengamalkannya. Diharapkan setelah mengetahui hal ini bisa mengubah persepsi kita dalam memahami jodoh, yang padamulanya mungkin fokus “pada siapa” jodohnya menjadi fokus “bagaimana pribadi saya” agar mendapatkan jodoh sesuai impian dan harapan saya.

Sumber : http://www.elmina-id.com/allah-membocorkan-rahasia-tentang-jodohmu-dalam-al-quran/

Ya Allah, Seandainya Aku Menikah Dengannya…

Mungkin diantara anda semua pernah mendengar atau menonton video seorang wanita yang datang ke pernikahan mantan pacarnya, lalu di tempat resepsi pernikahan sang mantan wanita itu tak sanggup menahan diri hingga akhirnya berpelukan dengan mantan pacarnya yang sudah menjadi suami orang lain. Menurut berita yang beredar laki-laki dan wanita tersebut sudah menjalani hubungan pacaran selama 7 tahun, dan kisah cintanya berakhir dengan tragis bertemu di pelaminan hanya sebagai tamu bukan sebagai mempelai.

Di kisah lain, dunia sosial media kita juga pernah dihebohkan dengan banyak beredar foto-foto karangan bunga dari seseorang yang dikirim ke pernikahan mantan pacarnya. Kita tidak akan terlalu banyak membahas tentang berita-berita diatas akan tetapi kita akan membahas sesuatu yang lazim terjadi di dunia percintaan muda-mudi khususnya yang mengambil jalur pacaran yaitu ketika mencintai tapi tak bisa memiliki.

Kelihatannya ini memang sesuatu yang sepele, tapi pada dasarnya ini adalah masalah yang cukup serius, karena tak sedikit anak-anak muda ketika gagal menikah dengan orang yang dicintainya berdampak buruk kepada pribadinya seperti gelisah, galau, risau, sakit hati, dendam, datang kedukun, putus asa, stress berat, bahkan pada kasus lain ada yang sampai bunuh diri. Memang begitulah cinta, terkadang ia bisa membuat orang tersenyum bahagia namun disaat lain cinta juga bisa membuat orang lain menderita sepanjang usia. Memang benar begitukah cinta?.

Maka ditulisan Indahnya Menikah Tanpa Pacaran kami mewanti-wanti agar menjauhi dan meninggalkan aktivitas pacaran. Apapun alasannya aktivitas pacaran itu mendekatkan setiap pelakunya kepada perzinaan, sementara dalam Al-quran Allah sudah menegaskan “Jangan dekati zina” . Sesuatu yang Allah larang sudah tentu memiliki dampak buruk bagi pelakunya, salah satu dampak buruk pacaran adalah bisa menimbulkan “penyakit kejiwaan” pada seseorang jika apa yang menjadi impian dari cintanya tidak tercapai.

Pacaran 5 tahun, 6 tahun atau bahkan sampai 7 tahun dan lebih. Banyak hal sudah dilakukan, ikrar cinta sejati sudah diucapkan, panggilanpun sudah ayah-bunda, mama-papa tapi apakah ini menjamin kalau yang menjadi pacar anda hari ini akan menjadi jodoh anda suatu saat kelak?. Tidak ada jaminan kalau yang menjadi pacar kita hari ini akan menjadi pasangan hidup kita.

Jodoh adalah mutlak ketentuan Allah SWT, Allah jauh lebih tau mana yang terbaik untuk kita , terbaik untuk didunia dan juga di akhirat. Satu hal penting yang mesti kita ingat adalah jodoh cerminan diri, jika diri kita baik maka In syaa Allah jodoh kitapun akan baik begitu juga sebaliknya jika kepribadian kita buruk begitu jugalah jodoh kita. Maka semestinya ikhtiar yang harus kita lakukan adalah memantaskan diri dan terus memperbaiki diri dari masa ke masa dari waktu ke waktu.

Siap menerima apapun ketentuan dari Allah untuk kita adalah salah satu parameter kesiapan seseorang untuk menikah. Siap menerima jika kita menikah dengan orang yang kita cintai, dengan orang yang tidak kita cintai atau dengan siapapun. So, lagi-lagi kuncinya jangan ada rasa dan cinta yang berlebihan dan mendalam sebelum ada akad nikah yang menghalalkan.

Ya, Allah seandainya aku menikah dengannya, Mungkin ada diantara anda apakah itu saudara, sahabat, teman atau mungkin anda sendiri yang sedang patah hati, catatlah nasihat cinta dari kami ini “Cinta sejati itu tidak akan membuatmu sakit hati, jika membuatmu sakit hati maka bisa jadi itu hanya nafsu yang mengatasnamakan cinta sejati”.

Sumber : http://www.elmina-id.com/ya-allah-seandainya-aku-menikah-dengannya/

Benarkah anda mencintai anak-anak anda ?

Mungkin suatu pemandangan yang sangat menyedihkan ketika melihat seorang ibu yang membentak-bentak anaknya, menjewer telinga anaknya hingga menangis meraung-raung. Di kondisi lain mungkin juga kita sering melihat seorang ayah yang dengan mudah mencabut ikat pinggangnya dan memukuli anaknya. Di tempat lain mungkin ada yang lebih miris dan menyedihkan ketika ada orang tua yang menyiksa anaknya hingga meninggal dunia.

Kekerasan pada anak memang salah satu masalah besar dinegeri ini, meskipun sudah banyak asosiasi atau LSM yang mengatasnamakan pejuang dan pelingdung anak ternyata tidak mengurangi terjadinya kekerasan terhadap anak-anak dibawah usia. Selain kekerasan fisik yang juga kerap terjadi adalah pemaksaan anak dibawah umur untuk bekerja apakah itu sebagai pemulung, pengamen, kuli panggul dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya.

Selain kekerasan fisik juga sering terjadi kekerasan psikis terhadap anak, ketika orang tua mengekang anaknya dengan peraturan yang serba berlebihan, ketika orang tua memaksakan kehendaknya kepada anaknya, ketika orang tua menutup pintu diskusi dan komunikasi terhadap anaknya juga merupakan suatu hal yang sangat berbahaya bagi masa kini maupun masa depan si anak.

Anak, anugerah terindah yang Allah berikan kepada orang tua, tak semua orang tua Allah berikan anugerah rezeki anak ini. Bahkan tak jarang yang sampai tua tidak memiliki anak sehingga mengadopsi anak adalah jalan lain untuk memiliki anak. Mensyukuri tentu hal yang patut kita lakukan sebagai orang tua ketika Allah berikan amanah rezeki berupa anak.

Memperlakukan anak dengan penuh cinta, kasih dan sayang. Berbicara lemah lembut terhadapnya, mengajak anak berdiskusi dan berkomunikasi secara intens, mendengarkan keluh kesah serta keinginan anak adalah hal penting yang harus dilakukan para orang tua terhadap anak-anaknya.

Kami yakin, semua orang tua bekerja dari pagi sampai petang mencari nafkah sebagai bentuk cinta dan sayang kepada anak-anak kita. Kita bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak-anak kita, tapi ada satu hal yang perlu kita ingat adalah anak kita tidak hanya membutuhkan materi-materi saja, tapi ada yang tentu sangat dibutuhkan oleh putra-putri kita yaitu kasih sayang dan perhatian orang tuanya.

Terkadang memang kenakalan anak-anak kita menyulut emosi kemarahan kita sebagai orang tua, tapi ada satu hal yang perlu kita ingat, kalau kenakalan dan keisengan anak kita tersebut hanya sementara. Yang mungkin suatu saat kelak kita sebagai orang tua merindukan saat-saat dimana anak kita nakal ketika dia masih kecil, maka sayang disayangkan sekali jika ini menjadikan emosi kita tersulut dan sampai memukul serta menganiaya anak-anak kita.

Pemberian materi itu perlu, namun pemberian pendidikan karakter, perhatian, memberikan waktu berkualitas untuk mendengarkan keluh kesah serta keinginan-keinginan anak-anak kita juga penting. Semoga kita para ayah, para bunda bisa menjadi ayah dan ibu yang baik, bersahabat serta menjadi teladan bagi anak-anak kita.

Sumber:http://www.elmina-id.com/benarkah-anda-mencintai-anak-anak-anda/

Beginilah Allah Mempertemukan Kamu Dengan Dia…

“Jodoh itu rezeki namun kapan dan bagaimana bertemunya itu misteri”

Pernahkah kamu memikirkan bagaimana dan seperti apa pertemuanmu dengan jodohmu kelak? atau kamu sudah menerka-nerka kira-kira seperti apa jodohmu. Bagi kamu yang masih pacaran (semoga segera putus,hehe) mungkin dengan penuh keyakinan tinggi akan menjawab kalau jodohmu kelak adalah pacarmu, apakah ada jaminan ?, jelas sama sekali tidak ada jaminan pacarmu hari ini akan menjadi suami atau istrimu kelak.

Layaknya rezeki, jodoh kadang dengan cara yang tidak disangka-sangka dan tidak bisa diterka. Kamu bisa melihat orang-orang disekitarmu apakah itu orang tua, kakak, tetangga, teman atau siapapun lihat bagaimana Allah mempertemukan mereka dengan pasangannya. Ada yang lucu, unik, menggemaskan dan meskipun ada juga yang menyedihkan. Banyak cara untuk bertemu dengan jodoh, namun pastikan itu cara-cara yang Allah ridhoi.

Imam syafii seorang ulama besar sekaligus imam mazhab ayahnya berjodoh dengan cara yang unik, ia berjodoh disaat hendak minta diikhlaskan atas buah apel yang ditemukannya di aliran sungai. Beda lagi dengan kisah nabi Musa AS yang lari ke negeri madyan untuk menghindari diri dari kejaran firaun, disana ia bertemu dengan putri dan syuaib dan membantunya mengambil air hingga akhirnya merekapun berjodoh. Nabi Yusuf AS berjodoh dengan Zulaikha perempuan istri raja mesir yang pada awalnya pernah menggodanya dan juga mengfitnahnya hingga dipenjara.

Lalu bagaimana Allah mempertemukan kamu dengan dia jodohmu kelak?, tidak perlu dihiraukan dan dirisaukan karena Allah tentu sudah menyiapkan cara terbaik pertemuanmu dengan jodohmu kelak. Tapi perlu diingat Allah hanya akan mempertemukanmu dengan orang-orang yang “tepat” sepertimu dengan kata lain adalah cerminan dirimu. Jadi jika ingin mendapatkan jodoh terbaik, shaleh, taat, takwa ya pastikan terlebih diri pribadi kamu juga shaleh, taat dan bertakwa.

Jodoh yang tepat akan datang diwaktu dan saat yang tepat, semua kita termasuk juga dulu saya sebelum menikah tentu menginginkan jodoh yang tepat. Pernikahan tidak hanya 1 atau 2 hari tapi sepanjang usia, artinya ketika menentukan jodoh kamu sedang menentukan siapa orang yang akan mendampingi dan menemanimu hingga akhir usia, pernikahan juga tidak hanya untuk dunia saja akan tetapi adalah suatu hal yang akan dipertanggung jawabkan hingga akhirat kelak, maka jangan sekali-kali lupa melibatkan Allah dan ketentuan-ketentuannya dalam proses ikhtiar menemukan jodohmu. Pernikahan juga tidak hanya bicara tentang kamu dan dia tapi juga tentang keluargamu dan keluarganya dia maka libatkan juga keluargamu minta pendapat ayah-ibu tentang kriteria dan harapan tentang calon menantu yang mereka inginkan.

Bagaimana Allah mempertemukanmu dengan dia?, biarlah itu jadi rahasia Allah dan menjadi kejutan indah untukmu suatu saat kelak.

Sumber:http://www.elmina-id.com/beginilah-allah-mempertemukan-kamu-dengan-dia/

Menemukan Cinta Sejati Tanpa Harus Sakit Hati…

“Saya takut jatuh cinta”
“Saya trauma sama laki-laki”
“Saya takut gagal memilih”

Trauma dalam dunia percintaan adalah suatu hal yang kerap menimpa wanita, apalagi bagi mereka yang menjalankan aktivitas pacaran tentu sakit hati sudah jadi makanan sehari-hari. Kegagalan taaruf, cinta yang dilarang orang tua, nikah dipaksakan oleh keluarga adalah hal lain yang juga bisa membuat seseorang trauma.

Pencarian cinta sejati malah berujung sakit hati sehingga muncul pertanyaan “benarkah ada cinta sejati?” . Ujian kehidupan terkadang berbeda-beda, ada yang Allah uji dengan kesulitan harta, kesulitan hidup dan juga kesulitan dalam menemukan jodoh.

“Ketika kita menjadikan cinta kepada Allah adalah yang PERTAMA dan UTAMA maka cinta kepada selain Allah hanyalah bentuk perwujudan dari cinta kita kepada Allah SWT”

Ada beberapa hal yang menjadi penyebab cinta kita berujung pada sakit hati, yang pertama adalah tidak ada kejelasan karena apa kita mencintai ? yang kedua adalah untuk apa kita mencintai ? dan yang kita adalah seberapa paham kita akan makna cinta.

Karena apa kita mencintai ?

Karena hartakah?, karena wajah ?, karena kedudukan ?, karena mengikuti nafsu dan syahwat ? ataukah kita mencintai karena Allah SWT. Jawabannya akan terlihat dengan bagaimana cara kita mencintai, jika cinta kita memang karena Allah SWT tentu kita akan mencintai juga dengan cara-cara yang Allah ridhoi. Jadi, selama kita mencintai karena Allah in syaa Allah tidak akan menemukan sakit hati, sebab kita selalu yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita.

Untuk apa kita mencintai ?

Untuk apa kita mencintai?, untuk hal duniawi atau untuk mendapatkan ridho Allah SWT ?. Ingat quotes diatas tadi. Jika kita menjadikan cinta kepada Allah sebagai cinta yang pertama dan utama maka cinta kepada yang lain adalah bentuk dari perwujudan dari cinta kepada Allah SWT.

Kita menikah, mencintai lawan jenis kita sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT, karena Allah perintahkan kepada kita untuk menikah, meneruskan keturunan dan kita melakukannya semata untuk menggapai ridho Allah SWT. Jika kita sudah melakukannya untuk Allah apakah mungkin akan sakit hati?, kami rasa tentu tidak.

Seberapa paham kita akan makna cinta ?

Memang membicarakan perkara cinta bukanlah hal yang sederhana, tidak sedikit pujangga yang mencoba menafsirkannya namun sebanyak pujangga yang mencoba memaknainya sebanyak itu jugalah muncul definisi tentang cinta.

Namun pada kali ini kita tidak akan mencoba mendefinisikan apa itu cinta, akan tetapi kita mencoba memaknai cinta dari sisi lain. Kita maknai cinta adalah sebuah “rasa” yang mana untuk mengetahui “rasanya” dia butuh “rasa” lain sebagai pembanding. Sebagaimana kita mengetahui rasa manis itu enak karena kita tau ada rasa pahit yang tidak enak, kita menyadari ada udara dingin karena kita tau ada udara panas. Ya, kita butuh “rasa” lain sebagai pembanding untuk memaknai sesuatu begitu juga dengan cinta, untuk paham dan mengerti cinta kita juga butuh “rasa” lain apakah itu kekecewaan, sakit hati, marah, menangis, bahagia dan rasa-rasa lainnya karena dengan “rasa-rasa” itulah cinta menjadi lebih berwarna. Begitulah cinta sejati, selamat menemukan cinta sejatimu.

Sumber:http://www.elmina-id.com/menemukan-cinta-sejati-tanpa-harus-sakit-hati/