Bismillahirrohmaanirrohiim.. Dikisahkan, pada zaman Nabi Sulaiman ada seekor burung elang elang mengadu kepada Beliau, “Seorang petani pemilik pohon yang bernama Abdullah, telah mengambil anak-anakku, karena aku membuat sarang di pohon miliknya itu,” ucap burung elang tersebut mengadukan permasalahannya. Pengaduannyan itu diterima oleh Nabi Sulaiman a.s., dan petani pemilik pohon akhirnya di panggil serta diberi peringatan untuk tidak lagi mengganggu burung elang tersebut. Di samping itu, Nabi Sulaiman a.s. juga menyuruh dua jin untuk membelah tubuh pemilik pohon dan membuanngnya secara terpisah kea rah timur dan ke barat, jika petani itu mengulangi lagi perbuatannya. Setahun berikutnya, petani itu melanggar peringatan Nabi Sulaiman a.s., tetapi kali ini sebelum memanjat pohon, ia menyedekahkan sepotong roti kepada fakir-miskin. Maka, untuk kedua kalinya burung elang tersebut mengadu kepada Nabi Sulaiman a.s. tentang anaknya yang diambil oleh pemilik pohon tersebut. Lalu, Nabi Sulaiman a.s. menegur dua jin yang ditugasinya untuk membelah tubuh petani tersebut, “kenapa kalian mengabaikan tugas dariku?” Tanya Nabi Sulaiman a.s. “wahai khalifah, maafkan kami, karena kami ditangkap oleh dua malaikat yang diperintahkan Allah, keduanya melemparkan kami secara terpisah, kea rah timur dank e barat. Rencana kami membelah tubuh petani pemilik pohon tersebut gagal, sebab sepotong roti yang disedekahkan oleh pria itu sebelum memanjat pohon,” jawab kedua jin tersebut membela diri. copyright © Salsabila Zaen Aljannah
Sabtu, 15 Maret 2014
Pengaduan Burung Elang atas Ulah Petani Di Zaman Nabi Sulaiman
Semut Dan Rezeki
Bismillahirrohmaanirrohiim.. Suatu ketika, seekor semut tertangkap basah oleh Nabi Sulaiman tengah membawa dua ekor belalang. Ia melahap kedua ekor belalang dengan lahap. Esok hari, Nabi Sulaiman memasukkan si semut tadi ke dalam sebuah kotak. Lalu Nabi Sulaiman memasukkan dua ekor belalang ke dalam kotak, sebagai bahan makanan si semut. Namun Nabi Sulaiman kaget, karena si semut hanya memakan satu ekor belalang saja. Nabi Sulaiman bertanya, "Hai semut, mengapa kemarin kamu menghabiskan 2 ekor belalang, sementara sekarang hanya menghabiskan 1 ekor saja." Si semut menjawab, "Kemarin, sebelum engkau masukkan aku ke dalam kotak, aku bebas dan PERCAYA bahwa Allah PENJAMIN segala kebutuhan hidupku. Oleh karena itu, aku tak pernah khawatir menghabiskan kedua belalang, karena esok hari aku akan mendapatkan kembali. Sekarang setelah aku ada dalam kotak, aku tak yakin bahwa engkau akan menjamin hidupku. Maka aku habiskan hanya satu belalang saja, dan menyisakan 1 ekor lagi untuk esok hari." Sahabat, nyaman berada dalam kotak apapun itu, adalah musibah. Apalagi mempercayai bahwa si kotak merupakan sumber rezeki. Kita harus yakin, ketika berada di luar kotak, rezeki itu seluas bumi dan langit. Asalkan kita mau berikhtiar sekuat semut dan mau beramal jama'i sekokoh mereka. Karena tak ada rezeki yang didapat sendiri. copyright © Salsabila Zaen Aljannah
Kamis, 13 Maret 2014
Rasa Yang Tertinggal
yang tak kupahami begitu erat mengikat hatiku
cinta yang hanya sebatas jumpa
dalam benak berangan fakta
namun ternyata rasa ini hanyalah rasa yang tertinggal
ingin rasanya mata ini tak menutup tapi hati ini mulai membaur senja
beginilah rasa yang tak seharusnya ada hadir hanya sesaat
copyright © Bintang12
Ruang Hati
Sayang,,,
Ada ruang tersendiri dalam getar hatimu
yang bisa aku rasakan di sini
Yang begitu menghanyutkan jiwaku
Seakan aku singgah di taman hati
yang penuh ukiran namamu
Yang mewanggi hingga membuatku selalu merindukanmu
hingga jantungku berdetak tak menentu
Dan ruang hati itu adalah jiwamu Aku sengaja selalu ku tuliskan lembaran baruku ini
copyright © Bintang12
Berjalan Bersama Sang Waktu
Samudra mengulir mesra pelan jatuh dalam dekapanku
Begitu tulus sempurna engkau pasrahkan dalam naungan jiwaku
Seakan tiada yang tersisa waktu erat peluk jiwamu
Bersemayam dalam jiwaku
Kita sambut mentari bersama,
Seakan hangat sinarnya yang menyatukan kebahagiaan kepada kita
Untuk terus singgah dan mengisi lembaran pagi yang berwarna
Camar pagipun kian kepakkan sayapnya,
Membentang dalam kedamaian luasnya samudera
Menyambut sang mentari dengan penuh senyum
Dan bahagia mengukir dahan kerinduan
Saat kisahnya berjalan dengan sang waktu
Hingga terus menemukan wangi harummu yang mekar
Berseri di keheningan sang mentari pagi
Pucuk kerinduan waktupun terus mengulir dalam mesra
Seakan tetesan embunmu terus mengalir
Dan mengisi hingga jernih ke dalam cintaku
Terimakasih dalam tiap tetesanmu terukir nama lita berdua
Yang terus bernyanyi menyambut indah sang pagi hari
copyright © Bintang12
Langit Kelabu
Liburan panjang di akhir tahun
langit mengkelabu
sekelabu hatiku
mau kemana kaki melangkah
tiada tujuan yang pasti
bukan gundah bukan gelisah
hanya hampa yang kurasa
tiada lagi air mata yang menetesi pipi
mengingatmu yg telah pergi
di saat seperti ini
copyright © Bintang12
Sampai Kapankah?
Letih dalam kehampaan hati
Sampai kapankah aku bersembunyi
Sembunyi dari rasa ini, yang semakin terasa sesak
Aku menyembunyikan sebuah rasa ini
Kejujuran yang terbungkam menjadi terdiam dan membisu
Kenapa dan mengapa?
Rasa ini harus ada dalam hati
Yang tak seharusnya bersemayam di relung hati
Terasa terluka setiap aku melihatnya bercanda mesra
Oh Tuhan..
Bila rasa ini hanya sia-sia dan tak berujung nyata
Dalam kebahagiaan tolonglah ya Tuhanku..
Hapus rasa ini tentangnya agar derita ini berganti senyuman kebahagiaan
Walau aku harus sendiri tanpa cinta
Cinta dalam diam ini haruskah aku akhiri
Entah..
Ku ingin cinta yang membuatku bahagia
Dan tak terbagi dan tak tersembunyi
copyright © Bintang12
Langganan:
Postingan (Atom)

.jpg)